468x60 Ads

This is an example of a HTML caption with a link.

Minggu, 08 September 2013

Peran Perhotelan dalam Kepariwisataan

Akomodasi perhotelan tidak dapat dipisahkan dengan pariwi­sata. Tanpa kegiatan kepariwisataan dapat dikatakan akomodasi perhotelan akan lumpuh. Sebaliknya pariwisata tanpa hotel merupakan suatu hal yang tidak mungkin, apalagi kalau kita ber­bicara pariwisata sebagai suatu industri.

Hotel termasuk sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstructures). Ini berarti hidup dan kehidupannya banyak ter­gantung pada banyak atau sedikitnya wisatawan yang datang. Bila kita umpamakan industri pariwisata itu sebagai suatu bangunan, maka sektor perhotelan merupakan tiangnya.

Kita menyadari bahwa tujuan wisatawan datang berkunjung pada suatu tempat bukanlah untuk tidur di hotel semata-mata. Menginapnya wisatawan di hotel dan akomodasi lainnya selalu dikaitkan dengan keperluan lain dengan motivasi yang beraneka ragam. Dengan perkataan lain, sektor perhotelan bukan suatu hal yang mutlak harus ada. Tanpa hotel orang-orang juga dapat menikmati banyak obyek dan atraksi wisata.

Anggapan demikian itu dapat kita terima bila kita membicara­kan pariwisata bukan sebagai suatu industri, tetapi sebagai suatu aktivitas saja yang tidak ada artinya dalam perkembangan ekonomi daerah sekitarnya, seperti halnya dengan kegiatan "piknik". Piknik dilakukan tidak berapa jauh dari tempat kediaman orang yang melakukannya dan dilakukan kurang dari 24 jam. Segala fasilitas serta keperluan disediakan sendiri, bahkan biaya­nya dipikul bersama-sama secara gotongroyong.

Berbeda dengan tour, dimana perjalanannya dilakukan lebih dari 24 jam. Dengan demikian mau tidak mau wisatawan memerlu­kan tempat tinggal untuk sementara, selama dalam perjalanannya. Dimana ia dapat beristirahat, mandi dan makan.

Ada pen­dapat lain yang mengatakan bahwa untuk akomodasi wisatawan tidak mutlak harus berbentuk hotel yang mewah, asal saja me­menuhi syarat "comfort" dan kesehatan. Pendapat semacam ini ada benarnya, tetapi hanya terbatas untuk wisatawan secara individu (single-travel) yang tidak direncanakan melalui suatu Travel Agent atau Tour Operator.

Industri pariwisata dewasa ini sudah memasuki apa yang di­sebut dengan "mass-tourism". Dimana orang-orang tidak lagi melakukan perjalanan sendiri-sendiri, tetapi berombongan (group). Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya penerbangan bo­rongan (charter flight) dan tersedianya fasilitas akomodasi dalam jumlah kamar yang relatif banyak. Tempo dulu hal seperti ini telah dilaku­kan oleh Thomas Cook pada tahun 1841, yaitu dengan mencarter kereta api untuk membawa wisatawan sebanyak lebih kurang 500 orang dalam excursion yang dilakukan antara kota Leicester dan kota Loughborough.

Sekarang pesawat yang digunakan untuk rombongan wisata­wan sekaligus dapat membawa penumpang dalam jumlah besar, mencapai 300 - 400 penumpang. Selain itu kecepatan terbangnya ada yang melebihi kecepatan suara, seperti Concorde buatan bersama Inggris - Perancis. Bila dengan kondisi semacam ini tidak disiapkan sarana perhotelan dengan segala fasilitasnya, dapat dibayangkan bahwa akan terjadi stagnasi dalam penerima­an kunjungan wisatawan yang hari demi hari meningkat terus. Apalagi sekarang sedang berkembang suatu jenis pariwisata yang pasaran potensialnya adalah orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan komperensi, seminar, simposium, loka karya, musya­warah nasional dan kegiatan lain semacam itu yang tentunya membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkap. I

tu semua hanya dapat disediakan oleh hotel-hotel yang ber­taraf internasional dan bukan oleh rumah-rumah penginapan atau perumahan rakyat (home stay) yang kini sedang berkembang di Bali dan Yogyakarta. Bagi wisatawan yang bepergian secara perorangan tanpa bantuan Tour Operator, memang kebanyakan tidak memerlukan hotel mewah bertaraf internasional semacam itu. Atas dasar pemikiran ini, dalam kegiatan pariwisata sebagai suatu industri, sektor perhotelan adalah mutlak. dan bahkan dunia perhotelan telah berkembang menjadi industri tersendiri. Karena itu sekarang kita juga mengenal istilah "hotel industry".

Sampai seberapa jauh peranan industri perhotelan dalam industri pariwisata dapat kita lihat dari pengeluaran wisatawan bila datang pada suatu tempat atau daerah tujuan wisata. Berdasarkan suatu penelitian yang pernah dilakukan, lebih dari 50% uang yang dikeluarkan wisatawan disedot oleh industri perhotelan. Berapa besarnya volume uang yang beredar dalam sektor industri perhotelan? Di Amerika Serikat saja dalam tahun 1969 tercatat sebesar US $ 7,25 milyar, termasuk untuk pengeluaran makanan dan minuman (food and beverages). Sedang dalam sektor industri pariwisata secara keseluruhan berjumlah sebesar US $ 35 -US $ 45 milyar setahun.

Jumlah hotel di Amerika Serikat dalam tahun 1939 terdaftar sebanyak 41.400 hotel dengan 1.600.000 kamar dan jumlah tersebut meningkat terus sehingga menjadi 65.350 hotel dengan 2.600.000 kamar dalam tahun 1969. Dengan jumlah wisatawan sebanyak 400 juta (business and pleasu­re travellers) dalam tahun 1969, industri perhotelan dapat menam­pung tenaga kerja sebanyak 600.000 orang dengan bermacam ­macam keahlian dan untuk itu telah dikeluarkan upah dan gaji sebesar US $ 3 milyar setiap tahunnya.

Dewasa ini industri perhotelan sudah sangat maju, banyak perusahaan raksasa yang memasuki usaha yang menarik ini. Satu di antara yang terbesar adalah Holyday Inn, yang dalam tahun 1975 sudah mempunyai 274.000 kamar yang tersebar luas di seluruh dunia, belum termasuk yang di Indonesia. Perusahaan perhotelan yang besar lainnya ialah Sheraton, Inter-continental, Hilton International, Trust Houses Forte dan Ramada Inn. Adapun pemilikan hotel-­hotel tersebut ternyata banyak kaitannya dengan perusahaan industri pariwisata secara keseluruhan. Hotel Hilton misalnya, dimiliki oleh Trans World Airlines, Inter-continen­tal Hotel oleh Pan American Airways dan Sheraton Hotel dimiliki oleh ITT.

Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan memasuki usaha industri perhotelan, kelihatannya seperti melakukan usaha terpadu (integrasi) atas pertimbangan efisiensi perusahaan dan keuntungan promosi di samping segi praktis lainnya. Di antara perusahaan tersebut adalah : Japan Airlines dengan Jal Hotel System-nya, Federal Hotel, Port Dicson di Kuala Lumpur, Hotel Plaza di Hongkong; Presedent Hotel di Jakarta; KLM dengan Golden Tulip Group; Cathay Pacific dengan Indra Regent atau Ambassador di Bangkok dan Hongkong; Thay International Airways dengan Mandarin Hotel dan lain-lain.

Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tetapi masih banyak akomodasi lain yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation). Hotel adalah sebuah gedung / bangunan yang menyediakan penginapan , makanan dan pelayanan yang bersangkutan dengan menginap serta makan bagi mereka yang mengadakan perjalanan. Hotel merupakan bangunan akomodasi yang menyediakan kenyamanan lebih tinggi dan status tertentu bagi mereka yang menginap disitu.

Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI No. SK.241/H/70 tahun 1970 menyatakan: "Hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan (akomodasi) serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum , yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Bentuk, susunan, tata ruangan, dekorasi, peralatan dan perlengkapan bangunan hotel dan akomodasi, sanitasi, hygiene, estetika, keamanan dan ketentraman, serta secara umum dapat memberikan sasaran nyaman (comfort). Dan khusus untuk kamar-kamar tamu dapat menjamin adanya ketenangan pribadi (privacy) untuk para tamu hotel”.

Penentuan golongan hotel-hotel menurut tanda bintang dinyatakan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, yang dilakukan 3 (tiga) tahun sekali. Diklasifikasi menjadi 5 golongan, yang dinyatakan dengan tanda bintang. Golongan tertinggi dengan tanda bintang lima. Sedangkan yang terendah dengan tanda bintang satu.

Tanpa bintang disebut Hotel Melati. Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tapi masih banyak akomodasi yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation), diantaranya: 1. Motel (Motor Hotel); 2. APOTEL (Apartmen Hotel); 3.Youth Hostel; 4. Apartment; 5. Inn; 6. Pension; 7. Bungalow; 8. Ryokan; 9. Mess; 10.Home Stay.




HOTEL

Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di cikal bakal wilayah kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" yang sama dengan tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun "dipersenjatai" berbagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata "transit", karena memang ditujukan buat para musafir.
Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.




Sabtu, 07 September 2013

Pariwisata Palangka Raya Mulai Dikenal Turis Nasional



Berbagai potensi pariwisata Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah kini mulai dikenal turis nasional, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Trecy Anden di Palangka Raya, Selasa.
Objek dan daya tarik wisata yang menjadi andalan wisatawan saat berada di ibu kota Provinsi Kalteng, Palangka Raya itu adalah objek kelestarian alam di daerah ini, katanya.
“Saat ini banyak sekali kunjungan dan kegiatan tingkat nasional yang diselenggarakan di Palangka Raya, hal itu sebagai bukti bahwa kota itu telah menjadi perhatian masyarakat luas bukan hanya daerah melainkan dari luar provinsi,” tambah dia.
Perkembangan dunia pariwisata di Palangka Raya saat ini sudah lebih maju dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dilihat dari pendapatan pajak dan retribusi dari hotel serta lokasi hiburan lain cukup meningkat pesat.
Ia mengatakan, dengan kemajuan pendapatan tersebut pihaknya akan berusaha mendorong dan mengelola berbagai objek wisata yang ada di Palangka Raya menjadi lebih baik di masa mendatang.
“Kami terus melakukan promosi potensi wisata dan kebudayaan daerah di tingkat regional dan nasional. Misalnya dalam kegiatan pagelaran seni dan budaya atau perlombaan kreativitas seni daerah,” ucapnya.
Selain itu, pengembangan potensi pariwisata dilakukan tidak hanya berupa hiburan buatan, tapi juga wisata alam dan kebudayaan. Masih banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan dan dilestarikan, sehingga bisa dinikmati secara berkelanjutan.
Pihaknya yakin, beberapa tahun mendatang perkembangan bidang pariwisata di Palangka Raya akan lebih pesat, sehingga sejak sekarang pemerintah sudah menyiapkan peraturan daerah (Perda) untuk menggali potensi pendapatan asli daerah dari sektor tersebut.
Ia juga menyatakan siap membantu siapa saja pengusaha yang ingin membangun lokasi pariwisata buatan di Palangka Raya, baik dari segi administratif maupun promosi.
“Saat ini kami terus mempromosikan potensi pariwisata Palangka Raya ke provinsi lain di Indonesia, dengan harapan menarik perhatian dan minat wisatawan berkunjung ke daerah ini. Kita bersyukur kalau ada investor berminat menanam investasinya,” katanya.
Trecy menjelaskan, potensi pariwisata itu tidak hanya terletak pada lokasi hiburan, namun juga makanan khas daerah, kerajinan tangan dan wisata alam yang tidak kalah menarik dibanding objek dan daya tarik wisata lainnya.



Kamis, 22 Agustus 2013

Jenis-Jenis Pariwisata

Pembangunan industri pariwisata di Indonesia berkembang sangat pesat. Terlihat dengan semakin beragamnya jenis-jenis pariwisata yang ada. Jenis-jenis pariwisata tersebut antara lain sebagai berikut:

1.    Wisata budaya Ini dimaksudkan agar perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan, untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup, budaya dan seni pada masyarakat daerah yang bersangkutan. Seringnya perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan-kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya. Jenis wisata budaya ini jenis yang populer di Indonesia. Jenis wisata ini adalah jenis wisata yang paling utama bagi wisatawan luar negeri yang datang ke negeri ini dimana mereka ingin mengetahui kebudayaan kita, kesenian dan segala sesuatu yang dihubungkan dengan adat istiadat dan kehidupan seni budaya kita.


2.    Wisata kesehatan Hal ini dimaksudkan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari dimana ia tinggal demi kepentingan beristirahat alam arti jasmani an rohani, dengan mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas yang mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang mempunyai iklim udara yang mneyehatkan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya. 


3.  Wisata olahraga Ini dimasudkan wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif dalam pesta olah raga di suatu tempat atau negara seperti Asean Games, Olympiade, Thomas dan Uber Cup, Wimbeldon, Tour de Fance, F1,  World Cup dan jenis olahraga lainnya. Macam cabang olahraga yang termasuk dalam jenis wisata olahraga yang bukan tergolong dalam pesta olahraga atau games, misalnya berburu, memancing, berenang, dan berbagai cabang olahraga dalam air atau diatas pegunungan.


4.    Wisata komersialJenis ini termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameran-pameran dan pekan raya yang bersifat komersil, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya. Pada mulanya banyak orang berpendapat bahwa hal ini tidak dapat digolongkan kedalam jenis pariwisata karena bersifat komersial, hanya dilakukan oleh orang-orang yang khusus mempunyai tujuan tertentu untuk bisnis. Tetapi kenyataannnya, dewasa ini pameran-pameran atau pekan raya yang diadakan banyak sekali dikunjungi oleh orang yang hanya sekedar melihat-lihat. Maka tak jarang pameran atau pekan raya dimeriahkan dengan berbagai atraksi dan pertunjukan kesenian.

5.    Wisata industriErat kaitannya dengan wisata komersial. Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang biasa ke suatu kompleks atau daerah perindustrian yang banyak terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-bengkel besar dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian. Hal ini banyak dilakukan di negara-negara yang telah maju perindustriannya dimana masyarakat berkesempatan mengadakan kunjungan ke daerah atau kompleks-kompleks pabrik industri berbagai jenis barang yang dihasilkan secara massal di negara tersebut.

6.    Wisata politikJenis ini meliputi pejalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau mengambil bagian secara aktif dalam peristiwa kegiatan politik seperti peringatan ulang tahun suatu negara/perayaan hari kemerdekaan dimana fasilitas akomodasi, sarana angkutan dan berbagai atraksi diadakan secara megah dan meriah bagi para pengunjung. Selain itu peristiwa-peristiwa penting seperti konferensi, musyawarah, kongres atau konvensi politik yang selalu disertai dengan darmawisata termasuk dalam jenis ini.

7.    Wisata konvensiTermasuk dalam jenis wisata politik. Berbagai negara dewasa ini membangun wisata konvensi dengan menyediakan fasilitas bangunan beserta ruangan-ruangan tempat bersidang bagi para peserta konferensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Contoh, Jakarta dengan JCC-nya (Jakarta Convention Center).

8.    Wisata sosialYang dimaksud dengan jenis wisata ini adalah pengorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah untuk memberi kesempatan kepada golongan masyarakat ekonomi lemah (mereka yang tidak mampu membayar segala sesuatu yang bersifat luks) untuk mengadakan perjalanan.

9.    Wisata pertanianJenis wisata ini adalah pengorganisasia perjalanan yang dilakukan ke proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi ataupun hanya sekedar melihat-lihat.


10.    Wisata maritim (marina) atau bahariJenis wisata ini banyak kaitannya dengan kegiatan di air seperti di danau, sungai, pantai, teluk atau laut lepas seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar dan lain-lain. Jenis wisata ini dapat juga disebut Wisata Tirta. Indonesia yang merupakan daerah kepulauan kaya akan wisata jenis ini. 


11. Wisata cagar alamWisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh-tumbuhan yang jarang terdapat di tempat lain. 

12.    Wisata buruJenis wisata ini banyak dilakukan di negara-negara yang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah (memliki izin). Pemerintah yang bijaksana mengatur wisata buru ini demi keseimbangan hidup satwa yang diburu agar tidak punah, dengan memperhitungkan perkembangbiakannya, antara yang lahir dan yang diburu tetap seimbang.

13.    Wisata pilgrim/wisata religiJenis wisata ini banyak dikaitkan dengan agama, adat istiadat dan kepercyaan umat atau kelompok masyarakat. Bisa dilakukan perorangan atau rombongan ke tempat-tempat suci, makam-makam orang besar atau yang diagungkan.

14.    Wisata bulan maduYang dimaksud dengan jenis wisata ini adalah suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan suami istri, pengantin baru yang sedang berbulan madu dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan perjalanan dan kunjungan mereka.

15.    Wisata petualanganDikenal dengan istilah adventure tourism. Jenis wisata ini dilakukan oleh mereka yang ingin melakukan petualangan atau hal-hal yang menantang, seperti memasuki hutan belantara, mendaki tebing terjal, bungy jumping, arung jeram, wisata kutub, wisata ruang angkasa dan lain sebagainya.

Selain jenis-jenis wisata tersebut, masih banyak lagi jenis wisata yang lain, tergantung kepada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negara yang ingin mengembangkan industri pariwisatanya. Hal ini tergantung pada selera atau daya kreativitas para profesional yang berkepentingan dalam industri pariwisata ini. Semakin kreatif dan banyak gagasan yang dimiliki, semakin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan.


Posted by DIMAS



Sejarah Perkembangan Pariwisata Di Dunia

Sejarah Pariwisata Dunia
Sejarah perkembangan pariwisata dunia secara umum dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu : Jaman Pra Sejarah atau Prehistory, Jaman Sejarah, dan Jaman Setelah Sejarah atau Post History.


1.Sebelum Jaman Modern (Sebelum Tahun 1920) :
-Adanya perjalanan pertama kali dilakukan oleh bangsa–bangsa primitif dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk kelangsungan hidup.
-Tahun 400 sebelum masehi mulai dianggap modern karena sudah mulai ada muhibah oleh bangsa Sumeria dimana saat itu juga mulai ditemukan huruf, roda, dan fungsi uang dalam perdangangan.
-Muhibah wisata pertama kali dilakukan oleh bangsa Phoenesia dan Polynesia untuk tujuan perdagangan.
-Kemudian Muhibah wisata untuk bersenang–senang pertama kali dilakukan oleh Bangsa Romawi pada abad I sampai abad V yang umumnya tujuan mereka bukan untuk kegiatan rekreasi seperti pengertian wisata dewasa ini, tetapi kegiatan mereka lebih ditujukan untuk menambah pengetahuan cara hidup, sistem politik, dan ekonomi.
-Tahun 1760–1850 terjadinya revolusi industri sehingga mengakibatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat, antara lain :
Dalam struktur masyarakat dan ekonomi Eropa terjadi pertambahan penduduk, urbanisasi, timbulnya usaha–usaha yang berkaitan dengan pariwisata di kota–kota industri, lapangan kerja meluas ke bidang industri, pergeseran penanaman modal dari sektor pertanian ke usaha perantara seperti bank, termasuk perdangan internasional. Hal–hal inilah yang menciptakan pasar wisata.
Meningkatnya tehnologi transportasi/sarana angkutan.
Munculnya agen perjalanan. Biro perjalanan pertama kali di dunia adalah Thomas Cook & Son Ltd. Tahun 1840 (Inggris) & American Express Company Tahun 1841 (Amerika Serikat).
Bangkitnya industri perhotelan. Perkembangan sistem transportasi juga mendorong munculnya akomodasi (hotel) baik di stasiun–stasiun kereta api maupun di daerah tujuan wisata. Disamping akomodasi, banyak pula restoran dan bar serta sejenisnya, seperti kedai kopi dan teh yang timbul akibat urbanisasi.
Munculnya literatur–literatur mengenai usaha kepariwisataan, antara lain : “Guide du Hotels to France” oleh Michelui ( 1900) dan “Guide to Hotels“ oleh Automobile Association (1901).
Berkembangnya daerah–daerah wisata di negara Mesir, Italia, Yunani, dan Amerika. Perjalanan tersebut diatur dan dikoordinasikan oleh Thomas Cook & Son Ltd. pada sekitar permulaan abad ke 19, yaitu tahun 1861.


2.Pariwisata Di Dunia Modern
Yang dimaksud dengan dunia modern adalah sesudah tahun 1919. Dimana hal ini ditandai dengan pemakaian angkutan mobil untuk kepentingan perjalanan pribadi sesudah perang dunia I (1914– 1918).
Perang dunia I ini memberi pengalaman kepada orang untuk mengenal negara lain sehingga membangkitkan minat berwisata ke negara lain. Sehingga dengan adanya kesempatan berwisata ke negara lain maka berkembang pula arti pariwisata internasional sebagai salah satu alat untuk mencapai perdamaian dunia, dan berkembangnya penggunaan sarana angkutan dari penggunaan mobil pribadi ke penggunaan pesawat terbang berkecepatan suara.
Pada tahun 1914, perusahaan kereta api di Inggris mengalami keruntuhan dalam keuangan sehingga diambillah kebijaksanaan sebagai berikut ini : “Kereta api yang bermesin uap diganti menjadi mesin diesel dan mesin bertenaga listrik  serta Pengurangan jalur kererta api yang kurang menguntungkan”.
Pada masa ini pula timbul sarana angkutan bertehnologi tinggi, seperti mobil dan pesawat sebagai sarana transportasi wisata yang lebih nyaman serta lebih cepat.


3.Perkembangan Sarana Angkutan Di Abad XX
Pada abad ini perkembangan pariwisata banyak dipengaruhi oleh perkembangan sarana angkutan, yakni :
Motorisasi, Merupakan sarana angkutan yang berkekuatan motor tenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga uap. Akibat dari motorisasi ini adalah galaknya wisata domestik, tumbuhnya penginapan–penginapan di sepanjang jalan raya, munculnya pengusaha–pengusaha bus wisata (coach) tahun 1920, dan munculnya undang–undang lalu lintas di Inggris tahun 1924– 1930.
Pesawat udara, Sebelum perang dunia II pesawat udara dipakai hanya untuk kepentingan komersial, seperti pengangkutan surat–surat pos, paket-paket, dan lain–lain. Tetapi sejak tahun 1963 mulai diperkenalkan paket perjalanan wisata dengan menggunkan pesawat terbang, seperti pesawat supersonik dan concorde dimana perjalanan dapat ditempuh dengan nyaman dan waktu yang relatif singkat.
Timbulnya agen perjalanan, agen perjalanan umum, dan industri akomodasi. Hal ini banyak disebabkan karena meningkatnya pendapatan per kapita penduduk terutama di negara–negara maju, seperti Eropa, Amerika, Jepang, dan negara lainnya; dan naiknya tingkat pendidikan masyarakat yang mempengaruhi rasa ingin tahu terhadap negara–negara luar.


posted by DIMAS




PARIWISATA

Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi ataul iburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawanatau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.
Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya.
Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai olehOrganisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal.
Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah


Posted by DIMAS