468x60 Ads

This is an example of a HTML caption with a link.

Minggu, 08 September 2013

Peran Perhotelan dalam Kepariwisataan

Akomodasi perhotelan tidak dapat dipisahkan dengan pariwi­sata. Tanpa kegiatan kepariwisataan dapat dikatakan akomodasi perhotelan akan lumpuh. Sebaliknya pariwisata tanpa hotel merupakan suatu hal yang tidak mungkin, apalagi kalau kita ber­bicara pariwisata sebagai suatu industri.

Hotel termasuk sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstructures). Ini berarti hidup dan kehidupannya banyak ter­gantung pada banyak atau sedikitnya wisatawan yang datang. Bila kita umpamakan industri pariwisata itu sebagai suatu bangunan, maka sektor perhotelan merupakan tiangnya.

Kita menyadari bahwa tujuan wisatawan datang berkunjung pada suatu tempat bukanlah untuk tidur di hotel semata-mata. Menginapnya wisatawan di hotel dan akomodasi lainnya selalu dikaitkan dengan keperluan lain dengan motivasi yang beraneka ragam. Dengan perkataan lain, sektor perhotelan bukan suatu hal yang mutlak harus ada. Tanpa hotel orang-orang juga dapat menikmati banyak obyek dan atraksi wisata.

Anggapan demikian itu dapat kita terima bila kita membicara­kan pariwisata bukan sebagai suatu industri, tetapi sebagai suatu aktivitas saja yang tidak ada artinya dalam perkembangan ekonomi daerah sekitarnya, seperti halnya dengan kegiatan "piknik". Piknik dilakukan tidak berapa jauh dari tempat kediaman orang yang melakukannya dan dilakukan kurang dari 24 jam. Segala fasilitas serta keperluan disediakan sendiri, bahkan biaya­nya dipikul bersama-sama secara gotongroyong.

Berbeda dengan tour, dimana perjalanannya dilakukan lebih dari 24 jam. Dengan demikian mau tidak mau wisatawan memerlu­kan tempat tinggal untuk sementara, selama dalam perjalanannya. Dimana ia dapat beristirahat, mandi dan makan.

Ada pen­dapat lain yang mengatakan bahwa untuk akomodasi wisatawan tidak mutlak harus berbentuk hotel yang mewah, asal saja me­menuhi syarat "comfort" dan kesehatan. Pendapat semacam ini ada benarnya, tetapi hanya terbatas untuk wisatawan secara individu (single-travel) yang tidak direncanakan melalui suatu Travel Agent atau Tour Operator.

Industri pariwisata dewasa ini sudah memasuki apa yang di­sebut dengan "mass-tourism". Dimana orang-orang tidak lagi melakukan perjalanan sendiri-sendiri, tetapi berombongan (group). Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya penerbangan bo­rongan (charter flight) dan tersedianya fasilitas akomodasi dalam jumlah kamar yang relatif banyak. Tempo dulu hal seperti ini telah dilaku­kan oleh Thomas Cook pada tahun 1841, yaitu dengan mencarter kereta api untuk membawa wisatawan sebanyak lebih kurang 500 orang dalam excursion yang dilakukan antara kota Leicester dan kota Loughborough.

Sekarang pesawat yang digunakan untuk rombongan wisata­wan sekaligus dapat membawa penumpang dalam jumlah besar, mencapai 300 - 400 penumpang. Selain itu kecepatan terbangnya ada yang melebihi kecepatan suara, seperti Concorde buatan bersama Inggris - Perancis. Bila dengan kondisi semacam ini tidak disiapkan sarana perhotelan dengan segala fasilitasnya, dapat dibayangkan bahwa akan terjadi stagnasi dalam penerima­an kunjungan wisatawan yang hari demi hari meningkat terus. Apalagi sekarang sedang berkembang suatu jenis pariwisata yang pasaran potensialnya adalah orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan komperensi, seminar, simposium, loka karya, musya­warah nasional dan kegiatan lain semacam itu yang tentunya membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkap. I

tu semua hanya dapat disediakan oleh hotel-hotel yang ber­taraf internasional dan bukan oleh rumah-rumah penginapan atau perumahan rakyat (home stay) yang kini sedang berkembang di Bali dan Yogyakarta. Bagi wisatawan yang bepergian secara perorangan tanpa bantuan Tour Operator, memang kebanyakan tidak memerlukan hotel mewah bertaraf internasional semacam itu. Atas dasar pemikiran ini, dalam kegiatan pariwisata sebagai suatu industri, sektor perhotelan adalah mutlak. dan bahkan dunia perhotelan telah berkembang menjadi industri tersendiri. Karena itu sekarang kita juga mengenal istilah "hotel industry".

Sampai seberapa jauh peranan industri perhotelan dalam industri pariwisata dapat kita lihat dari pengeluaran wisatawan bila datang pada suatu tempat atau daerah tujuan wisata. Berdasarkan suatu penelitian yang pernah dilakukan, lebih dari 50% uang yang dikeluarkan wisatawan disedot oleh industri perhotelan. Berapa besarnya volume uang yang beredar dalam sektor industri perhotelan? Di Amerika Serikat saja dalam tahun 1969 tercatat sebesar US $ 7,25 milyar, termasuk untuk pengeluaran makanan dan minuman (food and beverages). Sedang dalam sektor industri pariwisata secara keseluruhan berjumlah sebesar US $ 35 -US $ 45 milyar setahun.

Jumlah hotel di Amerika Serikat dalam tahun 1939 terdaftar sebanyak 41.400 hotel dengan 1.600.000 kamar dan jumlah tersebut meningkat terus sehingga menjadi 65.350 hotel dengan 2.600.000 kamar dalam tahun 1969. Dengan jumlah wisatawan sebanyak 400 juta (business and pleasu­re travellers) dalam tahun 1969, industri perhotelan dapat menam­pung tenaga kerja sebanyak 600.000 orang dengan bermacam ­macam keahlian dan untuk itu telah dikeluarkan upah dan gaji sebesar US $ 3 milyar setiap tahunnya.

Dewasa ini industri perhotelan sudah sangat maju, banyak perusahaan raksasa yang memasuki usaha yang menarik ini. Satu di antara yang terbesar adalah Holyday Inn, yang dalam tahun 1975 sudah mempunyai 274.000 kamar yang tersebar luas di seluruh dunia, belum termasuk yang di Indonesia. Perusahaan perhotelan yang besar lainnya ialah Sheraton, Inter-continental, Hilton International, Trust Houses Forte dan Ramada Inn. Adapun pemilikan hotel-­hotel tersebut ternyata banyak kaitannya dengan perusahaan industri pariwisata secara keseluruhan. Hotel Hilton misalnya, dimiliki oleh Trans World Airlines, Inter-continen­tal Hotel oleh Pan American Airways dan Sheraton Hotel dimiliki oleh ITT.

Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan memasuki usaha industri perhotelan, kelihatannya seperti melakukan usaha terpadu (integrasi) atas pertimbangan efisiensi perusahaan dan keuntungan promosi di samping segi praktis lainnya. Di antara perusahaan tersebut adalah : Japan Airlines dengan Jal Hotel System-nya, Federal Hotel, Port Dicson di Kuala Lumpur, Hotel Plaza di Hongkong; Presedent Hotel di Jakarta; KLM dengan Golden Tulip Group; Cathay Pacific dengan Indra Regent atau Ambassador di Bangkok dan Hongkong; Thay International Airways dengan Mandarin Hotel dan lain-lain.

Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tetapi masih banyak akomodasi lain yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation). Hotel adalah sebuah gedung / bangunan yang menyediakan penginapan , makanan dan pelayanan yang bersangkutan dengan menginap serta makan bagi mereka yang mengadakan perjalanan. Hotel merupakan bangunan akomodasi yang menyediakan kenyamanan lebih tinggi dan status tertentu bagi mereka yang menginap disitu.

Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI No. SK.241/H/70 tahun 1970 menyatakan: "Hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan (akomodasi) serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum , yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Bentuk, susunan, tata ruangan, dekorasi, peralatan dan perlengkapan bangunan hotel dan akomodasi, sanitasi, hygiene, estetika, keamanan dan ketentraman, serta secara umum dapat memberikan sasaran nyaman (comfort). Dan khusus untuk kamar-kamar tamu dapat menjamin adanya ketenangan pribadi (privacy) untuk para tamu hotel”.

Penentuan golongan hotel-hotel menurut tanda bintang dinyatakan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, yang dilakukan 3 (tiga) tahun sekali. Diklasifikasi menjadi 5 golongan, yang dinyatakan dengan tanda bintang. Golongan tertinggi dengan tanda bintang lima. Sedangkan yang terendah dengan tanda bintang satu.

Tanpa bintang disebut Hotel Melati. Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tapi masih banyak akomodasi yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation), diantaranya: 1. Motel (Motor Hotel); 2. APOTEL (Apartmen Hotel); 3.Youth Hostel; 4. Apartment; 5. Inn; 6. Pension; 7. Bungalow; 8. Ryokan; 9. Mess; 10.Home Stay.




HOTEL

Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di cikal bakal wilayah kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" yang sama dengan tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun "dipersenjatai" berbagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata "transit", karena memang ditujukan buat para musafir.
Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.




Sabtu, 07 September 2013

Pariwisata Palangka Raya Mulai Dikenal Turis Nasional



Berbagai potensi pariwisata Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah kini mulai dikenal turis nasional, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Trecy Anden di Palangka Raya, Selasa.
Objek dan daya tarik wisata yang menjadi andalan wisatawan saat berada di ibu kota Provinsi Kalteng, Palangka Raya itu adalah objek kelestarian alam di daerah ini, katanya.
“Saat ini banyak sekali kunjungan dan kegiatan tingkat nasional yang diselenggarakan di Palangka Raya, hal itu sebagai bukti bahwa kota itu telah menjadi perhatian masyarakat luas bukan hanya daerah melainkan dari luar provinsi,” tambah dia.
Perkembangan dunia pariwisata di Palangka Raya saat ini sudah lebih maju dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dilihat dari pendapatan pajak dan retribusi dari hotel serta lokasi hiburan lain cukup meningkat pesat.
Ia mengatakan, dengan kemajuan pendapatan tersebut pihaknya akan berusaha mendorong dan mengelola berbagai objek wisata yang ada di Palangka Raya menjadi lebih baik di masa mendatang.
“Kami terus melakukan promosi potensi wisata dan kebudayaan daerah di tingkat regional dan nasional. Misalnya dalam kegiatan pagelaran seni dan budaya atau perlombaan kreativitas seni daerah,” ucapnya.
Selain itu, pengembangan potensi pariwisata dilakukan tidak hanya berupa hiburan buatan, tapi juga wisata alam dan kebudayaan. Masih banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan dan dilestarikan, sehingga bisa dinikmati secara berkelanjutan.
Pihaknya yakin, beberapa tahun mendatang perkembangan bidang pariwisata di Palangka Raya akan lebih pesat, sehingga sejak sekarang pemerintah sudah menyiapkan peraturan daerah (Perda) untuk menggali potensi pendapatan asli daerah dari sektor tersebut.
Ia juga menyatakan siap membantu siapa saja pengusaha yang ingin membangun lokasi pariwisata buatan di Palangka Raya, baik dari segi administratif maupun promosi.
“Saat ini kami terus mempromosikan potensi pariwisata Palangka Raya ke provinsi lain di Indonesia, dengan harapan menarik perhatian dan minat wisatawan berkunjung ke daerah ini. Kita bersyukur kalau ada investor berminat menanam investasinya,” katanya.
Trecy menjelaskan, potensi pariwisata itu tidak hanya terletak pada lokasi hiburan, namun juga makanan khas daerah, kerajinan tangan dan wisata alam yang tidak kalah menarik dibanding objek dan daya tarik wisata lainnya.